Impian: Rutin Travelling ke Luar Negeri



Saya nggak tahu apakah ini saat yang tepat untuk berpikir soal impian atau tidak. Pasalnya saat ini banyak yang harus lebih saya pikirkan. Pekerjaan, kuliah, orang tua, pandemi dll. Rasanya agak aneh kalau membicarakan impian di masa-masa sulit begini. Iya nggak sih?

Tetapi biarlah, bermimpi adalah sesuatu yang gratis dan menyenangkan serta nggak ada ruginya sama sekali. Mimpi berbeda dengan target. Kalaupun nantinya nggak kesampaian ya biarlah, kan cuma mimpi, nggak usah kecewa.

Jadi sebenarnya dari dulu saya punya impian untuk berkunjung ke luar negeri, ke mana saja. Sebuah mimpi yang belum terwujud sampai sekarang. Belakangan saya revisi mimpi saya ini menjadi seperti judul tulisan ini, rutin travelling ke luar negeri. Saya nggak mau ke luar negeri hanya sekali seumur hidup. Saya mau rutin ke luar negeri dan punya jadwalnya, entah setahun sekali, setahun dua kali, atau bahkan sebulan sekali.

Jika dilihat dari kondisi saya sekarang, ada beberapa hal yang harus terjadi agar impian saya tersebut terwujud.

Pertama, tidak ada pandemi. Memang saat ini beberapa negara masih menerima kunjungan dari luar. Akan tetapi travelling ke luar negeri dengan kondisi masih adanya pandemi sangat beresiko. Lagipula dengan segala macam protokol kesehatan yang diterapkan sepertinya akan sangat tidak nyaman untuk bepergian dengan tujuan wisata.

Hal kedua yang harus terjadi adalah saya punya penghasilan rutin yang memungkinkan saya untuk mencukupi kebutuhan dan menabung. Jaman sekarang saya lihat travelling ke luar negeri sebenarnya tidak terlalu mahal. Bahkan ada beberapa agen perjalanan yang menawarkan sistem cicilan. Akan tetapi bukan berarti saya tidak butuh tabungan dan penghasilan yang cukup. Travelling, betapapun saya sangat menginginkannya bukanlah kebutuhan pokok. Maka dari itu setelah semuanya terpenuhi dan saya punya cukup tabungan saya akan dapat merencanakan perjalanan dengan tenang.

Hal ketiga yang harus terpenuhi yakni soal waktu. Saya harus punya waktu untuk melakukan travelling ke luar negeri. Saya rasa minimal waktu yang dibutuhkan adalah satu minggu. Dari sini saya harus bisa mendapatkan cuti jika saya bekerja. Atau kalau saya punya usaha atau kerja freelance, saya harus memastikan agar usaha/kerjaan saya nggak berantakan saat pergi travelling.

Itu tadi, cuma dibutuhkan tiga hal untuk mewujudkan mimpi saya. Meskipun ketiga hal tersebut masih belum bisa diperkirakan terjadinya. Saya cuma berharap kalau ketiganya bisa terjadi di saat yang hampir bersamaan. Jadi saat pandemi ini berakhir, saya sudah punya cukup penghasilan dan tabungan serta bisa menyisihkan waktu untuk pergi travelling.

Untuk negara-negara yang dikunjungi akan saya bahas di postingan lain.

Sekian dulu.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.