Cerita Tentang COVID-19 : Dari Sekedar Lelucon Hingga Kehilangan Pekerjaan

Pernahkah kalian menonton sesuatu di layar kaca atau di layar gawai lalu berandai-andai bahwa mungkinkah sesuatu yang kita lihat sangat jauh tersebut tiba-tiba bisa dekat ke kehidupan kita sehari-hari?
Well, sepertinya saya kini sedang mengalaminya.
Sekitar pertengahan Januari lalu saya sedang duduk bersantai sambil menyeruput segelas teh bersama kawan-kawan. Kami tinggal di mess kerja kami, sebuah rumah dua lantai yang cukup besar untuk menampung lima orang. Meskipun demikian ruang gerak kami hanya terpusat pada salah satu kamar di lantai bawah, kamar salah seorang kawan yang di dalamnya terdapat televisi.
Saat itu berita tentang munculnya sebuah virus di kota Wuhan, Tiongkok tampak biasa saja. Ada beberapa berita yang lebih menarik seperti misalkan kapal Tiongkok yang melanggar batas perairan Indonesia di Natuna atau kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga yang dipicu oleh situasi yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Berita tentang pandemi yang menyerang Wuhan yang kemudian dikenal luas sebagai COVID-19 itu bahkan dianggap lelucon oleh sebagian orang Indonesia. Pasalnya beberapa hari sebelumnya tersiar berita yang cukup unik, saya lupa detailnya, intinya ada semacam perkumpulan dukun-dukun dan “orang pintar” Indonesia yang mengklaim akan membantu pemerintah dalam “mengusir” kapal Tiongkok dan membalas kesemena-menaan negara tersebut. COVID-19 dianggap sebagai perwujudan dari aksi para dukun tersebut. Tentu saya tidak percaya dengan anggapan itu, tetapi saat itu memang momennya pas dan cukup menggelikan.
Semuanya berubah drastis beberapa bulan kemudian. COVID-19 mulai merajalela. Saat itu saya mendengar mengenai betapa parahnya kondisi di Italia, negara yang jaraknya amat jauh dari Tiongkok. Saya mulai sadar bahwa COVID-19 bukanlah lelucon. Situasi kemudian berjalan dengan amat cepat. Tiba-tiba semua event olahraga di tingkat dunia diberhentikan. Satu per satu negara di dunia mulai menghadapi pandemi korona hingga akhirnya di awal Maret COVID-19 “resmi” hadir di Indonesia. Sejak saat itu angka kasus positif terus meningkat. Dampak yang ditimbulkan pun bukan main-main. Sekolah diliburkan, transportasi dibatasi, hingga banyak pekerja di-PHK atau dirumahkan. Tebak salah satu korbannya? Saya.
Ini adalah hari ke dua puluh tiga saya dirumahkan dari pekerjaan saya. Tanpa gaji dan kompensasi. Virus yang beberapa lalu terasa sangat jauh kini ada di dekat saya, nyata dan mempengaruhi hidup saya.
Belakangan pemerintah mengeluarkan aturan yang melarang warga yang merantau untuk pulang ke kampung halamannya. Tentu ini berkaitan dengan hari raya lebaran yang sekitar satu bulan lagi tiba. Pulang kampung memang adalah tradisi tahunan yang ditunggu-tunggu oleh para perantau.
Lalu bagaimana dengan saya?
Saya sudah pulang kampung seminggu yang lalu.
Wow berarti saya melanggar aturan dong?
Secara teknis tidak. Saya pulang sebelum larangan pulang kampung diberlakukan.
Kenapa pulang? Bukankah itu berbahaya?
Ya. Di masa sekarang ini, jangankan pulang kampung, ke pasar saja rawan tertular virus. Maka dari itu butuh waktu beberapa saat sampai saya memutuskan untuk pulang kampung. Sebelumnya kayaknya perlu saya jelaskan bahwa saya bekerja di sebuah perusahaan yang berpusat di Bekasi, namun saya ditempatkan di salah satu plant cabang, di Palembang, Sumatera Selatan. Perusahaan saya memutuskan untuk menutup plant tersebut karena alasan pandemi. Akan tetapi ada kemungkinan besar bahwa setelah pandemi berakhir pun plant tempat saya bekerja selama hampir tiga tahun terakhir ini tidak akan dibuka lagi. Karena itulah saya memutuskan untuk pulang.
Saya mulai merancang perjalanan yang seaman mungkin. Saya memutuskan memilih jalur udara karena waktu tempuhnya lebih singkat. Semakin singkat waktu yang saya tempuh maka semakin kecil kemungkinan untuk berinteraksi dengan orang banyak, pikir saya. Kemudian untuk angkutan dari dan ke bandara saya mencoba untuk tidak menggunakan kendaraan umum seperti kereta atau bis. Saya memilih menyewa mobil meski biayanya lebih mahal.
Singkat cerita saya akhirnya melakukan perjalanan pulang dari Palembang ke Magelang tanggal 17 April. Satu hal yang sedikit mengacaukan rencana perjalanan saya adalah jadwal penerbangan maskapai yang berubah-ubah. Lagi-lagi karena dampak pandemi. Saya memesan tiket keberangkatan dari Bandara Palembang pukul 11.30 namun jadwalnya dimajukan menjadi pukul 07.35. Lalu juga saya harus transit di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu sebelum terbang ke bandara tujuan saya, New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo Yogyakarta.
Periode transit inilah yang sangat menjadi pikiran bagi saya. Saya akan berada di sebuah bandara yang terletak di pusat penyebaran virus selama kurang lebih 8 jam.
Akan tetapi situasinya ternyata tidak semenyeramkan itu. Bandara Soetta saat itu relatif sepi dan dengan ukurannya yang sangat luas saya dengan mudah menghindari kontak dengan orang lain, kecuali petugas check-in tiket tentunya. Bahkan saya berjam-jam duduk di ruang tunggu bandara sendirian sampai nyaris ketiduran dengan hanya berteman kursi-kursi kosong.
Situasinya mulai agak berubah begitu jam penerbangan ke Yogya sudah dekat. Saya pindah ke ruang tunggu terakhir sebelum menaiki pesawat yang ternyata cukup ramai. Saat di pesawat pun penumpangnya penuh. Kadang-kadang terdengar batuk-batuk dari kursi belakang yang jujur agak membuat saya khawatir. Tetapi lalu saya sadar, semua penumpang dan kru pesawat mengenakan masker meskipun tidak semuanya masker medis.
Tiba di bandara baru Yogyakarta, ada sedikit pemeriksaan kesehatan. Saya pikir ini akan memakan waktu lama, tetapi ternyata kami hanya dicek suhu tubuhnya serta disuruh mengisi semacam kartu kesehatan. Dilihat dari prosedurnya saya rasa ini hanya formalitas dan tentu saja kurang begitu ampuh untuk mendeteksi adanya virus.
Selesai pemeriksaan saya bergegas ke kamar mandi untuk cuci tangan. Jika dihitung mungkin saya sudah lebih dari lima kali cuci tangan sampai dengan saat itu. Nggak papalah demi keamanan.
Saya lalu keluar, melewati antrian orang-orang yang mengambil bagasi mereka. Barang-barang saya sebagian besar sudah saya kirim lewat jasa ekspedisi sehingga saya hanya perlu menenteng satu buah tas punggung dan sebuah tas selempang yang tidak pernah saya lepaskan dari tadi.
Bandara baru Yogya ini terlihat sangat luas. Suasana yang lengang sepertinya ikut memperbesar kesan bandara ini. Di area penjemputan saya disambut oleh banyak sopir taksi yang menawarkan jasanya. Beruntung saya sudah menyewa mobil melalui telepon malam sebelumnya sehingga saya tak perlu repot-repot bernegosiasi dengan para sopir ini. Bukannya apa-apa, saya malas bernegosiasi dalam kondisi capek dan buru-buru. Situasi itu sering kali memaksa saya untuk bertindak bodoh.
Mas Arif, si sopir mobil sewaan saya ternyata sudah menunggu saya tak jauh dari situ. Ia mengajak saya ke lantai tiga yang ternyata merupakan tempat parkir mobil pribadi. Area di depan pintu keluar bandara hanya ditujukan untuk kendaraan umum seperti taksi online, bus, ojek, dll.
Singkat cerita saya pun berhasil keluar dari bandara menuju rumah yang masih sekitar dua setengah jam perjalanan lagi. Mas Arif ini ternyata statusnya karyawan di perusahaan tempat saya menyewa mobil. Dari cerita-ceritanya saya mendapatkan info-info menarik seputar bisnis persewaan mobil ini. Yogya memang kota yang tak pernah sepi. Bahkan di masa pandemi ini Mas Arif masih sibuk mengantarkan setidaknya tiga orang per hari, kebanyakan tentunya penjemputan dari bandara seperti saya ini. Meski demikian diakuinya ini jauh lebih sepi dari biasanya. Sekarang tidak ada lagi warga luar yang berwisata ke Yogya yang dikenal sebagai salah satu kota wisata di Indonesia.
Mas Arif juga sempat curhat kalau gajinya dipotong lima puluh persen gara-gara pandemi ini. Nasibnya tak jauh beda dengan saya, walaupun sedikit lebih baik karena dia setidaknya masih bekerja. Perjalanan yang menyenangkan Bersama Mas Arif berakhir sekitar pukul 21.00. Saya tiba di rumah dan langsung disambut oleh orangtua dengan perintah untuk segera cuci tangan dan mandi.
Dari situ saya sadar kalau ternyata penanganan terhadap ancaman COVID-19 di kampung saya ini cukup bagus. Jauh lebih bagus dari apa yang saya lihat di Palembang misalnya. Di sini setiap rumah diwajibkan menyediakan air untuk cuci tangan di luar rumah. Lalu juga dilakukan penyemprotan desinfektan setiap hari.
Saya pun mengikuti prosedur, menjalani karantina selama 14 hari. Bahkan lebih ekstrim karena bukan hanya tidak boleh keluar rumah, saya juga tidak boleh keluar kamar. Tetapi saya mengerti, ini adalah risiko saya yang memaksa untuk pulang. Lagipula saya bukan orang yang asing dengan berdiam diri di kamar. Dalam kondisi normal sebelum pandemi pun saya lebih banyak berdiam diri di kamar, biasanya sambil membaca buku. Saat ini pun saya berusaha untuk membaca, menyelesaikan tumpukan buku saya yang lumayan tinggi. Tapi bukan hanya itu. Saya juga akan mencoba kembali rajin menulis serta berencana untuk memulai bisnis. Nanti kalau ada update menarik lagi akan saya tulis di sini.
Untuk sekarang cukup sekian.
Tidak ada komentar: